Hiruk pikuk penonton, sorak sorai di lapangan, antusiasme penggila bola, terjadi manakala kesebelasan idolanya menyarangkan goal ke gawang lawan. Gegap gempita, langit di atas stadion seakan runtuh. Sementara, wajah pendukung kesebelasan yang dikalahkan terhenyak, terdiam seribu bahasa ! Seakan mulut mereka tersumbat ! Demikian fakta di lapangan hijau ! Sudah tentu ada rasa kecewa. Inilah paradoks ekspresi, rasa suka cita dan kecewa hadir bersamaan.
Dalam sepak bola, sebuah goal menjadi momen puncak di lapangan hijau ! Ia “moment of strugle”, sesuatu yang dinanti. Goal inilah yang diburu dan dibidik oleh jutaan mata penonton dan mata kamera, goal dengan serta merta diabadikan ! Sebuah prestasi dalam permainan bola sekaligus petaka dalam penentuan klasemen di sebuah ranah kejuaraan. Prestasi dan petaka “bola” ini, menjadi kajian para pelatih dan pakar manajemen bola.
Sebuah bola bundar di lapangan hijau adalah fokus, ia adalah titik perhatian dari 22 orang pemain plus 1 orang wasit,. Perguliran bola menentukan, para pemain merebut dan membagi, wasit mondar-mandir kesana kemari kemudian goal terjadi, wasit meniup peluit. Inilah hasil manuver penyerangan, maka jadilah kemenangan, sebuah titik kulmunasi terjadi.
Dari pemikiran saya tentang “bola”, saya bertanya pada diri sendiri, apakah orang-orang (manusia) dengan berbagai antusiasme-nya sedang dipermainkan bola ? Atau orang-orang sedang mempermainkan bola ? Jawaban saya, cenderung kepada yang pertama, yaitu orang-orang sedang dipermainkan bola he …. he… he ! Tunggu dulu, anda jangan cepat marah, dan yang punya situs bola ini juga sabar dulu, saya belum berargumen !
Permainan bola itu kan ciptaan manusia, bola yang bentuknya bundar juga hasil ciptaan manusia. Rasionalitas manusia menjadi naif tatkala manusia itu tergila-gila alias mabuk kepayang oleh sesuatu hal yang ia ciptakan sendiri. Kalau saja bukan antusiasme, bukan kegilaan, bukan mabuk kepayang, mungkin wajar-wajar saja. Bentuk kegilaan apapun, menurut saya adalah berlebihan dan melampaui batas. Artinya kewarasan mensikapi “bola” ini hampir-hampir hilang ketimbang rasionalitas. Oleh sebab itu, argumen saya, “manusia sedang dipermainkan bola”. He he he !
Dari sisi kontemplasi, berbicara “bola”, subtansinya adalah sebuah permainan, sebagaimana hidup dan kehidupan di alam semesta ini juga permainan. “Bola” adalah permainan, terdiri dari para pemain, “bola” (yang dimainkan), wasit yang menghakimi permainan, dan hasil permainan. Hanya saja, siapa memainkan apa, atau siapa dipermainkan apa, atau siapa menghakimi permainan apa, tergantung kepada kesadaran masing-masing.
Kata orang-orang bijak, “permainan bola” itu sebuah resonansi dari karakter manusia di lapangan hijau kehidupan. Pada “permainan bola”, yang lebih menonjol adalah sifat-sifat persaingan, saling mengalahkan, serta sikap-sikap jumawa (ingin selalu menang). Hawa nafsunya adalah gua harus menang dan elu mesti kalah titik. Dalam permainan bola mustahil ada toleransi untuk sebuah kekalahan. Kira-kira demikian argumen saya ! Anda boleh suka atau tidak, setuju atau tidak setuju, terserah anda !
Masa kecil saya di kampung, adalah sebuah kenangan dan pengalaman bermain bola. Hidup saya berada di belahan masa lalu permainan bola. Bola yg terbuat dari jeruk besar (semacam jeruk bali ) yang dipanaskan oleh debu bara api, lapangan becek, dan penontonnya seluruh warga kampung. Saat magrib tiba, walau permainan belum usai, kami harus bubar ! Kalau tidak, kami dihardik dan besok tidak boleh main lagi. Malamnya terlihat kaki kami menjadi kebiruan karena di babat lawan. Kadang, bermain bola di kampung membuat kami bermusuhan dengan anak-anak kampung lain, karena kalah dan menang itu tadi.
Tulisan ini adalah sebuah cara saya untuk membangkitkan hobi menulis yang sekian lama sudah saya tinggalkan – Sekarang saya sedang berada di ujung kehidupan – Saya ingin banyak membuat banyak “goal” pada nilai-nilai kehidupan disaat kehidupan itu sendiri banyak kehilangan makna.