Alya Izza Mahmudah

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Puisi

15 Juni 2000
menjelang fajar …
seiring aura doa di langit ke tujuh
turun amanah illahi bersama cahaya

Alya … kutempatkan ketinggian rizki-mu
Izza … kujubahkan kemuliaan hidup-mu
Mahmudah … kulekatkan terpuji akhlak-mu

Sembilan tahun sudah
walau perjalanan tidaklah sempurna
namun kukuatkan kembali rapalan doa
Alya … Izza… Mahmudah !

karena namamu …
adalah doa
adalah pelindung
adalah senjata

Perbedaan Transfer Manohara dan Ronaldo

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Oretan, Premiership

Apa perbedaan Transfer Manohara dan Ronaldo ?

Kisah sukses transfer Manohara yang lari dari Kesultanan Klantan ikut menghadirkan rasa syukur. Seperti diberitakan media massa, Manohara berhasil melarikan diri ketika berada di Singapura. Namun jika membaca komentar di berbagai forum dunia maya, ada satu nada sumbang yang memojokan keluarga Manohara. Nada apakah itu ? Sebagian komentator memberi stempel “Mata Duitan”. Opini mereka, keluarga telah “menjual” Manohara yang masih belia. Terus terang saya kurang setuju dengan stempel  “Mata Duitan” ini.

Cobalah anda mencoba menilai diri sendiri. Andaikata anda berada pada situasi dan kondisi seperti Manohara,  dimana anda atau putri anda akan dipersunting oleh pangeran dari sebuah kerajaan yang kaya raya. Saat itu anda pun belum tahu hal negatif tentang pangeran. Saya yakin 95% dari kita akan menerima dengan riang gembira lamaran dari pangeran. Jadi sebuah keputusan yang wajar dan normal, andaipun kita bukan orang yang mata duitan.

<<<  (0)  >>>

Bicara pelarian, transfer Cristiano Ronaldo (CR7) kisah yang mirip dan menjadi ulasan besar di eropa bahkan jagad sepakbola. Selain proposal nilai transfer Real Madrid sebesar 80 juta Poundsterling atau Rp 1,3 Triliun, columnist premiership juga mengulas kondisi United jika ini terjadi. Mereka mencoba memprediksi apalagi jurus brilian Sir Alex Ferguson ketika ditinggalkan CR7. Ini bukan pertama kali, United ditinggalkan bintang-bintangnya secara mendadak. Bryan Robson, Eric Cantona, Jaap Stamp, Ruud Van Nistelrooy, David Beckham, Roy Keane adalah deretan pemain kunci yang hengkang dari United. Berpengaruh ? Jelas sekali namun tidak sampai membuat limbung sang nahkoda. Bahkan Fergie selalu berhasil menciptakan bintang-bintang baru.

Seandainya terwujud, kepergian CR7 merupakan kesempatan bagi Fergie untuk membangun kembali pakem sepakbola menyerang United dengan ball posession yang kuat. Selama ada ego CR7, United mengorbankan permainan kolektif, seorang winger yang seharusnya memberikan assist pada striker malah lebih banyak menggiring bola dan mencetak gol sendiri. Sesekali boleh lah untuk mengejutkan lawan, namun kalau dijadikan strategi utama terus menerus jelas akan mudah diantisipasi.

Yang lebih parah lagi tanpa disadari Fergie, egoisme CR7 yang minim assist justru membuat tumpul insting membunuh Rooney, Tevez atau Berbatov. Dalam berbagai pertandingan musim lalu, ketiga striker ini sering kali membuang kesempatan sehingga tak jarang musim lalu United harus menang dalam kondisi kritis. Bahkan saat Argentina melawan Ecuador, Tevez gagal mencetak gol dari titik penalti.

Akhirnya saya berharap … proses transfer Ronaldo ke Real Madrid berjalan mulus dan penuh fulus, seperti transfer Manohara ke Indonesia walaupun “gak mulus lagi” dan tanpa fulus.

MU Hater

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Champions League

Selalu ada malam-malam kelabu
namun tak cukup melunturkan jiwa merah kami

Kekalahan MU kali ini, di final Liga Champion 2009 ternyata membawa cerita tersendiri. Cerita apa itu ? kali ini tentang MU Hater !!! Semua orang yang sering mengikuti forum sepakbola di manapun pasti maklum dengan realitas “MU Hater” di dunia maya, yaitu orang-orang yang membenci United. Selama ini saya bersinggungan dengan MU Hater hanya di forum. Ketika United mengalami kekalahan mereka bermunculan berhahaha hihi menghabisi fans United, sebaliknya jika United menang mereka menghilang dari peredaran. Sampai saat ini rasanya saya tidak pernah merespon sekasar apapun komentar MU Hater. Hemat emosi, hemat energi lah maksudnya. Bisa dikatakan saya belum pernah sekalipun berhadapan secara langsung seorang MU Hater. Walaupun banyak juga teman yang mendukung klub lain namun belum ada yang masuk dalam derajat “MU Hater”.

Malam Final Liga Champion tahun ini, saya berada di kota Medan karena sedang mengikuti Booth Camp selama 2 minggu, 25 Mei s/d 5 Juni 2009. Seperti kita ketahui bersama, malam itu menjadi malam yang kelabu bagi pendukung United. Tak ada lagi keberuntungan tahun 2008, tak ada lagi keajaiban tahun 1999. United limbung dipermainkan Barcelona. Tak berkutik sama sekali. Tak perlu mencari alasan atas kekalahan, lebih baik mengakui dominasi Barcelona dengan lapang dada. Usai pluit panjang, saya pun menyalami satu orang pendukung Barcelona saat itu yang ikut nonton bareng di lobby Asrama Learning Centre Telkom. Hanya satu pendukung Barcelona dari dua belas orang yang nonton saat itu :) .

Namun keesokan harinya, ketika “break session” training. Salah seorang teman, meluap luap penuh emosi membicarakan kekalahan MU. Bahkan dia memploklamirkan dirinya sebagai MU Hater. “Syukurin… Mampus … Modar loh …“, kata kata itu keluar dipenuhi amarah. Saya terkesima heran, berusaha memahami apa yang membuat orang ini penuh amarah. Matanya membesar, wajahnya yang putih bersih seketika menjadi merah. Wooowww …

Ada apa dibalik fenomena MU Hater ? Apakah mereka membenci karena United ? Apakah mereka membenci karena fans United ? Saya sama sekali tidak ingin tahu lebih jauh. Namun ada sebuah tanya yang menggoda, apakah perlu mengisi hidup ini dengan “kebencian” ? Apalagi olahraga membawa nilai-nilai sportifitas. Bahkan ahli strategi perang Sun Tzu mengatakan, ” Hargai musuh-musuh mu jika ingin mengalahkan mereka “.

Di “ruang break” saya hanya menikmati diskusi “panas” yang terjadi. Sama sekali enggan menanggapi  komentar seorang MU Hater. Sama seperti saya menikmati kemenangan-kekalahan MU di masa lalu, hanya di dalam hati. Hemat emosi … hemat energi … karena saya lebih memandang dia sebagai seorang sahabat bukan sebagai seorang MU Hater.

Terakhir ..

Satu inspirasi di malam kelabu itu adalah ketika terjadi gol kedua Barcelona oleh Messi, tidak ada seleberasi berlebihan dari pelatih Barca. Pep Guardiola justru langsung mengupdate strategi dengan memasukan pemain baru. Sebuah sikap Juara Sejati yang tidak mabuk dalam kemenangan, justru semakin waspada ketika berada di atas angin.

Congratulation for Barca … You Are Campeone.

Take Me Home Old Trafford

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Inspi-RED

Goal … Hore

Author: nsudjana  //  Category: Contributor

Hiruk pikuk penonton, sorak sorai di lapangan, antusiasme penggila bola, terjadi manakala kesebelasan idolanya menyarangkan goal ke gawang lawan.  Gegap gempita, langit di atas stadion seakan runtuh.  Sementara, wajah pendukung kesebelasan yang dikalahkan terhenyak, terdiam seribu bahasa !  Seakan mulut mereka tersumbat ! Demikian fakta di lapangan hijau !  Sudah tentu ada rasa kecewa.  Inilah paradoks ekspresi, rasa suka cita dan kecewa hadir bersamaan.

Dalam sepak bola, sebuah goal menjadi momen puncak di lapangan hijau ! Ia “moment of strugle”, sesuatu yang dinanti. Goal inilah yang diburu dan dibidik oleh jutaan mata penonton dan mata kamera, goal dengan serta merta diabadikan ! Sebuah prestasi dalam permainan bola sekaligus petaka dalam penentuan klasemen di sebuah ranah kejuaraan.  Prestasi dan petaka “bola” ini, menjadi kajian para pelatih dan pakar manajemen bola.

Sebuah bola bundar di lapangan hijau adalah fokus, ia adalah titik perhatian dari 22 orang pemain plus 1 orang wasit,. Perguliran bola menentukan, para pemain merebut dan membagi, wasit mondar-mandir kesana kemari kemudian goal  terjadi, wasit meniup peluit. Inilah hasil manuver penyerangan, maka jadilah kemenangan, sebuah titik kulmunasi terjadi.

Dari pemikiran saya tentang “bola”, saya bertanya pada diri sendiri, apakah orang-orang (manusia) dengan berbagai antusiasme-nya sedang dipermainkan bola ?  Atau orang-orang sedang mempermainkan bola ?  Jawaban saya, cenderung kepada yang pertama, yaitu orang-orang sedang dipermainkan bola he …. he… he ! Tunggu dulu, anda jangan cepat marah, dan yang punya situs bola ini juga sabar dulu, saya belum berargumen !

Permainan bola itu kan ciptaan manusia, bola yang bentuknya bundar juga hasil ciptaan manusia.  Rasionalitas manusia menjadi naif  tatkala manusia itu tergila-gila alias mabuk kepayang oleh sesuatu hal  yang ia ciptakan sendiri.  Kalau saja bukan antusiasme, bukan kegilaan, bukan mabuk kepayang, mungkin wajar-wajar saja.  Bentuk kegilaan apapun, menurut saya adalah berlebihan dan melampaui batas.  Artinya kewarasan mensikapi “bola” ini hampir-hampir hilang ketimbang rasionalitas.  Oleh sebab itu, argumen saya, “manusia sedang dipermainkan bola”.  He he he !

Dari sisi kontemplasi, berbicara “bola”, subtansinya adalah sebuah permainan, sebagaimana hidup dan kehidupan di alam semesta ini juga permainan.  “Bola” adalah permainan, terdiri dari para pemain, “bola” (yang dimainkan), wasit yang menghakimi permainan, dan hasil permainan.  Hanya saja, siapa memainkan apa, atau siapa dipermainkan apa, atau siapa menghakimi permainan apa, tergantung  kepada kesadaran masing-masing.

Kata orang-orang bijak, “permainan bola” itu sebuah resonansi dari karakter manusia di lapangan hijau kehidupan.  Pada “permainan bola”, yang lebih menonjol adalah sifat-sifat persaingan, saling mengalahkan, serta sikap-sikap jumawa  (ingin selalu menang).  Hawa nafsunya adalah gua harus menang dan elu mesti kalah titik. Dalam permainan bola mustahil ada toleransi untuk sebuah kekalahan.  Kira-kira demikian argumen saya ! Anda boleh suka atau tidak, setuju atau tidak setuju, terserah anda !

Masa kecil saya di kampung, adalah sebuah kenangan dan pengalaman bermain bola. Hidup saya berada di belahan masa lalu permainan bola.  Bola yg terbuat dari jeruk besar (semacam jeruk bali ) yang  dipanaskan oleh debu bara api, lapangan becek, dan penontonnya seluruh warga kampung.  Saat magrib tiba, walau permainan belum usai, kami harus bubar  ! Kalau tidak, kami dihardik dan besok tidak boleh main lagi.  Malamnya terlihat kaki kami menjadi kebiruan karena di babat lawan.  Kadang, bermain bola di kampung membuat  kami bermusuhan dengan anak-anak kampung lain, karena kalah dan menang itu tadi.

Tulisan ini adalah sebuah cara saya untuk membangkitkan hobi menulis yang sekian lama sudah saya tinggalkan – Sekarang saya sedang berada  di ujung kehidupan – Saya ingin banyak membuat banyak “goal” pada nilai-nilai kehidupan disaat  kehidupan itu sendiri banyak kehilangan makna.

Emphaty for Fletcher

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Champions League, Inspi-RED

Dalam dunia yang semakin narsis, kebanyakan orang mudah silau dengan popularitas dan nama besar. Padahal jika ingin mengibas tirai sedikit saja, kita akan temukan orang-orang pekerja keras yang membackup kesuksesan nama besar seseorang. Dalam dunia selebritis misalnya, tak ada artis atau aktor  papan atas yang tidak mempunyai manajer atau asisten. Artis atau aktor tidak bisa mengerjakan semuanya,  butuh orang untuk mengurus keuangan, urusan kontrak bahkan tata rias.

Keberhasilan United membungkam Arsenal 3-1 di Emirates Stadium, mengangkat tinggi-tinggi kontribusi Cristiano Ronaldo dan Park Ji Sung. Park Ji Sung membuka jalan untuk kemenangan United dengan goal cepatnya, sedangkan CR7 lagi-lagi meluncurkan Rocket, julukan khusus untuk gol CR7 yang ditendang dari jarak jauh. Layaknya rocket, tendangan CR7 cepat dan akurat menembus gawang Alumnia, kiper Arsenal.

Namun ada sebuah nama patut mendapat perhatian dalam partai semifinal Arsenal vs United. Nama itu Darren Fletcher. Tidak setajam Rooney, tidak secepat CR7,  tidak pula sekokoh Ferdinand atau Vidic. Namun Fletcher layaknya “rantai” yang menjalankan mobilitas United ketika bertahan maupun menyerang. Fletcher  berlari tiada henti, menutup pergerakan lawan ketika di serang, dan membackup aliran serangan. Bersama Anderson mematikan Cesc Fabregas, playmaker Arsenal. Dia orang yang berlari paling jauh dalam pertandingan itu, tanpa lelah !

Bila kita ingin membedah lebih dalam, kunci sukses bangunan strategi Alex Ferguson saat mengalahkan Arsenal 1-3 sebenarnya ada di trio lini tengah, Fletcher - Carrick - Anderson. Tiga orang inilah yang pertama kali menahan serangan Arsenal dan tiga orang inilah yang pertama melancarkan serangan.

Karakter Fletcher masih kalah kuat bila dibandingkan dengan Roy Keane, namun pemain ini berhasil menjalankan peran yang dipercayakan Alex Ferguson dengan efektif. Namun sayang, menit 75 Fletcher harus keluar lapangan karena KARTU MERAH yang menurut beberapa pengamat terlalu berat. Tak ada protes sama sekali dari Fletcher, dia meninggalkan keputusan wasit dengan tenang walaupun wajahnya penuh sesal. Kartu merah yang memastikan Fletcher tidak bisa ikut berlaga di Final Champion League di Roma. Kejadian ini mengikuti jejak rekam Roy Keane dan Paul Scholes yang tidak bisa ikut Final Champion League di tahun 1999, setelah keduanya bermain cantik di semifinal.

Seorang fans Arsenal justru memberikan pujian kepada Fletcher, apa yang dilakukan Fletcher sangat profesional. Tidak membiarkan lawan dengan mudah mencetak gol. Mengingatkan dirinya pada sosok Roy Keane yang tak pernah mau kalah. Walaupun sudah unggul tiga gol dan sangat sulit bagi Arsenal mengejar lima gol, namun Fletcher tetap berjuang mempertahankan gawang Van Der Sar. Padahal kebobolan dua bahkan tiga gol sekalipun tidak akan membuat United tersingkir.

Kartu Merah untuk Fletcher adalah sebuah drama. Tragedi ditengah luapan kegembiraan pemain lain yang memastikan United ke Final. Walaupun menyakitkan hati namun tidak membuat Fletcher lepas kontrol seperti yang terjadi dalam partai semifinal lain keesokan harinya. Sebuah nilai tersendiri untuk Fletcher dibandingkan dengan Drogba yang emosional.

Semoga banding Manchester United atas kartu merah Fletcher berhasil. Paling tidak menjadi kartu kuning agar Fletcher bisa dimainkan di final.

Membeli Nama Besar atau Membangun Nama Besar

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Inspi-RED, Oretan

Seperti yang saya prediksikan dalam postingan “Gempa Dahsyat” , keberadaan syeikh timur tengah benar-benar mengguncang Liga Inggris bahkan liga-liga eropa. Dua minggu terakhir berita transfer Kaka yang selangit memenuhi headline media olahraga eropa. Nilai transfer sekitar 3 trilliun rupiah akan memecahkan rekor andai saja Kaka menerima tawaran ini. Seorang kawan, seorang Milanisti di Semarang bahkan sampai menuliskan email kecemasannya jika Kaka jadi hengkang. Beruntung Kaka yang religius punya rasa cinta dan akhirnya menolak tawaran Manchester City.

Berlimpahnya petrodollar di Manchester City tidak serta merta mendatangkan daya tarik pemain bintang. Ada banyak tanya untuk City, Mengapa demikian ? Apa yang terjadi sebenarnya ? Apa yang kurang dari City ? NAMA BESAR !!! Seharusnya team yang mempunyai julukan Citizen membangun nama besar terlebih dahulu agar dapat membeli pemain dengan NAMA-NAMA BESAR seperti Kaka. Seharusnya team sukses Citizen belajar dari Chelsea dan Mourinho. Chelsea memang BERANI merekrut dengan harga tinggi namun yang dikejar adalah pemain yang potensial dan belum punya nama besar seperti sekarang ini. Saat itu penggemar Liga Inggris bahkan seluruh dunia belum banyak mengenal Drogba dan Essien walaupun sudah terbukti kualitasnya di Liga Perancis.

Lebih brilian lagi Chelsea dengan uangnya membajak Peter Kenyon salah satu chief executif Manchester United yang tentunya memegang blueprint United. Peter Kenyon tahu persis rencana marketing United, tahu persis bakat muda yang diincar United bahkan tahu kapan membangun toilet baru di Old Trafford. Kalau Chelsea tidak mengcopy-paste United paling tidak melalui Kenyon bisa menggagalkan program United. Pemain potensial seperti Michael Essien dan Jon Obi Mikel lepas dari genggaman United karena didahului Peter Kenyon setelah di Chelsea.

<<<   (0)   >>>

Di dunia kerja, nama besar atau nama baik bisa menjadi trigger kenaikan karir seseorang. Tidak salah jika setiap orang berlomba-lomba mencari nama … minimal menjaga nama baik. Namun ada sebuah “fakta tersembunyi” yang mengganggu ketika sebuah reward yang mengangkat nama baik justru tidak dapat diterima oleh si penerima reward itu sendiri. Saya sebagai penerima salah satu reward jelas tidak menerima reward ini. Bagaimana mungkin ! tanpa kontribusi dimasukan dalam team yang menerima reward. Sebaliknya orang yang jelas-jelas memberikan kontribusi nyata lebih dari 85% malah tidak masuk dalam team yang menerima reward.

Jelas ini kondisi yang salah, berpotensi merusak keharmonisan team. Merusak filosofi Reward The Winer. Saya pun tidak pernah dikonfirmasi sebelumnya masuk dalam team ini. Jadi apa boleh buat. Tadinya ingin menolak secara langsung di depan umum namun kerusakan yang terjadi akan lebih parah dan meluas. Jadi saya memutuskan menolak reward dan uang yang saya terima di dalam team saja, sebagaimana saya pun di masukan dalam team tanpa konfirmasi. Tanpa bermaksud menyudutkan inisiatif seseorang yang mengikut sertakan nama saya.

<<<   (0)   >>>

Entah kerja apa yang dilakukan official Manchester City sejak kedatangan Syeikh tajir enam bulan lalu. Merekam apa yang telah dilakukan Citizen di bulan Januari 2009, jelas sekali mereka hanya mengandalkan kantong tebal semata. Berharap pada kibasan uang semata. Citizen tidak menyiapkan situasi team yang diinginkan nama besar, mereka tidak paham apa yang diinginkan pemain besar. Pemain besar tidak hanya “hijau” pada uang semata, mereka perlu egoisme GELAR JUARA, mereka perlu narsisme NAMA BESAR. Jadi sebaiknya Manchester City mengikuti jalur tim-tim besar bagaimana membangun NAMA BESAR. Kesempatan masih ada, Januari belum habis … lebih baik mengejar pemain pemain kelas menengah namun bisa membangun soliditas team dibanding egoisme nama besar.

Maaf … kali ini Citizen baru bisa membuat BERITA BESAR, belum punya NAMA BESAR. Kalau perlu bajak dulu PETER KENYON dari Chelsea untuk mendapatkan bluesprint karena Chelsea contoh team terdekat yang pandai menggunakan uang. 

Misteri Keberuntungan

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Premiership

Keberuntungan tak bisa dilepaskan dari perjalanan hidup, terutama kisah dengan akhir happy ending. Bahkan dalam film sekalipun, penulis skenario membutuhkan keberuntungan untuk mendapatkan happy ending. Pernah melihat film “Memoar of Geisha”, titik balik hidup Chiyo dimulai dari sebuah keberuntungan ketika Mamahe Yang Agung menebus Chiyo dari rumah Geisha dan menjadikan Chiyo seorang Geisha kelas atas. Artinya hidup ini membutuhkan “tangan Sang Skenario” agar didatangi keberuntungan.

Kalau ingin mendapatkan fakta, coba perhatikan hidup disekitar kita. Keluarga dekat atau kawan lama bisa menjadi contoh bagaimana sebuah keberuntungan mendatangi siapapun. Kaya miskin, pintar bodoh, sehat sakit … siapapun ! Keberuntungan merubah kualitas hidup siapapun. Keberuntungan menjadi titik balik.

Saya punya seorang sepupu, Udan namanya. Semasa SMA selalu bermodalkan golok jika ingin naik kelas. Guru dan kepala sekolah menjadi sasaran intimidasi saat kenaikan kelas. Sekilas kebanyakan orang akan menilai tak ada masa depan dengan profil pelajar seperti itu. Tapi sesuatu terjadi dalam perjalanan luntang lantungnya selepas lulus SMA. Di sebuah pasar tradisional kota Garut, Udan menemukan sebuah pola transaksi hasil bumi yang dapat menghasilkan uang. Sedikit demi sedikit Udan menguak pemberian Dewi Fortuna itu. Dan tidak lebih dari dua tahun, justu uang yang mendatangi dirinya, HALAL dan tanpa ancaman golok ! Yang lebih menggembirakan lagi mantan preman ini sekarang sudah menjadi dermawan dan religius. Subhanallah … Alhamdulillah …

<<< (0) >>>

Perebutan tahta Premiership dalam dua tahun terakhir, tepatnya 2007 dan 2008 yang dimenangi oleh Manchester United tak lepas dari keberuntungan, saya pun ikut-ikutan menggunakan istilah Dewi Fortuna, konon seorang Dewi yang membawa keberuntungan. Masih terasa adrenalin dua musim itu, ketika United mengalami kekalahan ternyata Chelsea dan Arsenal ikut kalah. Ketika United hanya bisa seri, Chelsea dan Arsenal pun tak bisa menang. Itulah yang saya sebut keberuntungan Dewi Fortuna, posisi United tidak bisa disusul rival-rivalnya hingga akhir musim lebih karena faktor keberuntungan.

Ketika persaingan begitu sengit dan keras, segala daya upaya sudah tercurahkan, manager sekaliber Alex Ferguson pun berharap pada keberuntungan Dewi Fortuna. Entah bagaimana cara Ferguson mendatangkan Dewi Fortuna begitu dekat dengan United, menurut saya masih misteri. Big Four sama kuat, sama berkualitas namun …. sekali lagi entah mengapa United yang dipilih. Keberuntungan yang paling anyar dan membuat saya histeris di tengah malam, yaitu saat John Terry terpeleset menendang penalti di Final Liga Champion 2008.

Kita semua tentu setuju, big four premiership - United, Chelsea, Arsenal dan Liverpool sudah melakukan kerja keras untuk menjadi yang terbaik namun sayangnya Dewi Fortuna hanya memilih satu pemenang. Minggu ini, 11 Januari … United akan berhadapan kembali dengan Chelsea. Mungkin akan terjadi lagi keberpihakan Dewi Fortuna, namun entah untuk siapa ??? Mungkin Ferguson harus menyanyikan lagu 11 Januari nya GIGI agar dapat mendatangkan Dewi Fortuna sebagai penjaga Manchester United.

akulah penjagaMU
akulah pelindungMU
akulah pendampingMU
di setiap langkah - langkahMU

Kambing Hitam di Emirates Stadium !

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Oretan, Premiership

Dalam hitungan jam, partai Big Four kembali digelar. Tensi tegangan tinggi Arsenal versus Chelsea akan mewarnai akhir pekan ini. Dalam partai Big Four sebelumnya, Arsenal berhasil mengalahkan Manchester United dan Chelsea berhasil menodai Liverpool. Namun entah kenapa, musim ini kekuatan hulu ledak Arsenal sulit diprediksi, in-konsistensi.

Faktor non teknis lebih dominan menyelimuti ruang ganti Arsenal. Pasukan Arsene Wenger sulit keluar dari tekanan atau konflik emosi dalam pertandingan sulit. Seolah setiap kekalahan atau kegagalan harus dicarikan kambing hitam ! Curhatan Gallas menggambarkan ada Kambing Hitam di Emirates Stadium. Jika terjadi terus menerus akan berubah menjadi trauma yang berkelanjutan.

~~~ (0) ~~~

Mengkambinghitamkan juga terjadi pada saya. Dua minggu lalu, dalam sebuah EVENT DADAKAN, 80% persen tamu undangan tidak bisa hadir. Sebelum acara dimulai pimpinan bermuka masam, sangat menjatuhkan semangat. Tidak ada informasi yang pasti mengapa tamu undangan tidak bisa datang. Yang menjadikan emosi saya meledak, setelah acara team Contender “disalahkan” atau “dikambinghitamkan” atas ketidakhadiran tamu undangan.

Saya balik menyerang, kambing hitam sebenarnya … ya Decision Maker. Team Contender hanya executor ! Kalau boleh memilih, kalau boleh memutuskan … kami tidak akan membuat EVENT DADAKAN ! Apalagi yang melibatkan pihak eksternal, yang tentunya juga punya agenda tersendiri. Cobalah peka dan menghargai kepentingan pihak lain saat mengambil keputusan ! karena BUKAN ANDA SAJA YANG PENTING !

Ternyata beberapa hari kemudian, kasus Menghargai Orang Lain terjadi kembali. Kali ini justru saya sebagai tamu undangan sebuah organisasi ternama. Tertulis di undangan acara di mulai jam 18:00 ! dan saya datang tepat waktu.

Walaupun dilaksanakan di Hotel Berbintang Empat, ternyata tidak menjamin panitia bisa on time. Acara baru bisa dimulai jam 20:30an ! Apa yang terjadi kemudian cukup memalukan panitia, sekitar jam 22:00, satu persatu tamu mulai pulang walaupun acara puncak sampai. Kali ini saya hanya tersenyum … tidak mencari KAMBING HITAM, hanya belajar dari dua kejadian ini untuk belajar menghargai kepentingan orang lain saat mengundang.

~~~ (0) ~~~   

Lupakan KAMBING HITAM. Sebagai pendukung United, kali ini saya berharap banyak Arsenal kembali memperlihatkan semangatnya. Paling tidak kekalahan Chelsea membantu memperkecil jarak United dari singasana Premiership dengan catatan United pun mampu mengalahkan Citizens. Sebaliknya jika Arsenal yang kalah, prediksi kiper Chelsea Petr Chech hampir dipastikan mereka bisa dicoret dari perebutan gelar juara musim ini.

Dalam situasi kritis ini, Arsene Wenger harus mampu membangkitkan keinginan kuat untuk memenangkan pertandingan. Jika perlu berkelahi di lapangan :D ~ kompor mode on. Angka 13 akan disandang sebagai jarak selisih poin antara Arsenal dengan pimpinan klasemen Chelsea atau Livepool. Jika ini terjadi, fase ini bukan hanya sekedar kritis namun akan menjadi krisis untuk Emirates Stadium.  

Harapan yang lain, streaming Live via Speedy tidak mengalami gangguan. Memang selama ini yang sering menjadi masalah justru server streamingnya. Semoga !

Arsenal Syndrome

Author: Firman Rissaldi  //  Category: Oretan, Premiership

Kenangan, dendam atau trauma sama-sama menghadirkan masa lalu. Kenangan menyanyikan lagu-lagu indah, dendam memendam rasa sakit hati yang tak tuntas, sedangkan trauma menghadirkan ketakutan yang luar biasa. Saya yakin 99%, semua orang punya kenangan, dendam atau trauma dengan kadar yang berbeda. Apapun itu, manis pahitnya masa lalu akan selalu melekat dalam perjalanan hidup seseorang, bahkan rasanya mustahil dihapuskan begitu. Bisa saja seseorang melupakan masa lalu, namun apakah orang dekat disekitarnya ikut juga melupakan ?

Yang menjadi pertanyaan, apakah benar menilai seseorang dari masa lalu ? Atau sebaliknya, salahkan belajar dari pengalaman ? Keduanya bisa benar atau keduanya bisa salah. Saya sendiri pun bingung, harus berdiri di sisi mana. Terkadang hati-hati dengan track-record seseorang, namun tak jarang begitu murah hati melupakan kesalahan masa lalu orang yang lain.

Entah hulu ledak apa yang ada di benak William Gallas. Diberi kepercayaan ban capten The Gunners, namun justru tidak bisa meredakan konflik internal yang terjadi di kamar ganti. Apakah sudah menjelma menjadi dendam atau bahkan menjadi trauma, sehingga Gallas harus meledakkan rahasia Arsenal pada media massa. Apakah rentetan hasil yang mengecewakan telah menjelma menjadi trauma mental ? Apakah kekalahan dari Stoke City, Hull City dan hilangnya kemenangan di depan mata atas Hotspur telah menjadi kerak-kerak trauma ?

Arsenal Sindrom ini sebenarnya sudah terlihat sejak dua musim silam. Kalau musim lalu Arsenal digjaya di awal musim dan mulai terlihat goyah di tigaperempat musim. Musim ini kegoyahan terlihat lebih cepat, sebelum paruh musim ! Arsenal Sindrom bukan masalah teknis, namun masalah mental. Arsenal bukan ditimpa kesialan namun diliputi aura trauma. Justru trauma lebih menakutkan … Lagi-lagi Young Guns Arsenal sulit bangkit setelah mengalami kekalahan.

Ada nasehat bijak dan jitu jika anda dalam situasi trauma …
Rubahlah trauma itu menjadi dendam, sehingga anda benar-benar ingin sekali mengalahkan rasa trauma. Jika ini berhasil maka trauma dan dendam hanya akan menjadi masa lalu. Anda tahu bagaimana membungkamnya ! Semoga Arsenal dan kapten barunya meledakan trauma di lapangan hijau.