September 29, 2020

Balada La Masia dan Maraknya Transfer Dagelan Barcelona

Sekurangnya dua dekade terakhir, akademi sepakbola kepunyaan Barcelona, La Masia, dianggap sebagai salah satu ladang pembibitan pesepakbola muda terbaik di dunia. Pasalnya, La Masia berhasil menelurkan talenta-talenta hebat yang kemudian meroket sebagai bintang lapangan hijau. Misalnya saja Sergio Busquets, Andres Iniesta, Lionel Messi, Carles Puyol, dan Xavi Hernandez.

Fondasi filosofi dan teknis La Masia banyak mendapat sumbangan dari maestro sepakbola Belanda, Johan Cruyff, saat menukangi Los Cules pada 1988 sampai 1996. Era kepelatihannya diwarnai munculnya The Dream Team Barcelona yang disokong jebolan akademi semisal Guillermo Amor, Albert Ferrer, dan Pep Guardiola serta dikombinasikan dengan sosok-sosok impor kelas kakap macam Ronald Koeman, Michael Laudrup, dan Hristo Stoichkov.

Berselang beberapa tahun kemudian, dengan Guardiola bertindak sebagai arsitek, lahir lagi skuad fantastis Los Cules yang sukses menggenggam beraneka gelar. Lebih manisnya lagi, tim besutan lelaki berkepala plontos yang sekarang membesut Manchester City tersebut didominasi pemain-pemain jebolan La Masia. Porosnya tentu saja Busquets, Iniesta, Messi, Gerard Pique, Puyol, Victor Valdes, dan Xavi.

Kedigdayaan Barcelona juga berimbas di tim nasional Spanyol. Keberadaan sosok-sosok jenius itu membuat La Furia Roja berhasil menggondol banyak prestasi. Antara lain menjadi jawara Piala Eropa 2008 dan Piala Eropa 2012 serta mengecup trofi Piala Dunia 2010.

Tatkala Guardiola hijrah dan digantikan Tito Vilanova, kesuburan La Masia dalam menyuplai pesepakbola berbakat untuk Barcelona tetap terjaga. Salah satu momen yang sulit dilupakan adalah pertandingan kontra Levante pada November 2012. Ketika itu, Vilanova memainkan sebelas pemain utama yang adalah lulusan La Masia.

Akan akan tetapi, di era Vilanova pula La Masia mulai meranggas. Berawal dari ditutupnya fasilitas usang La Masia tahun 2011, untuk kemudian dipindahkan ke arena latihan yang lebih modern dan representatif di Ciutat Esportiva Joan Gamper. Meski punya kualitas lebih baik, tapi aura Ciutat Esportiva Joan Gamper dinilai tak sesakral La Masia.

Pergantian pelatih yang sering terjadi juga dituding sebagai penyebab luruhnya kehebatan La Masia. Pasalnya, Gerardo Martino, Luis Enrique, Ernesto Valverde, dan sekarang Quique Setien, kurang memberi porsi yang pas bagi jebolan akademinya untuk berkembang di skuad utama.

Di sisi lain, pihak manajemen juga menggeser fokusnya hanya pada membangun tim yang solid guna meraih titel. Tak ada lagi hasrat untuk mengorbitkan bakat-bakat muda yang dimiliki club. Alih-alih mempromosikan pemain binaan tim muda, Los Cules lebih sering memboyong pemain jadi dengan nominal selangit demi mendongkrak popularitas dan sisi komersil.

Maraknya Transfer Dagelan

Dinamika yang terjadi di dunia sepakbola memang tak mendukung usaha Barcelona untuk menggunakan seluruh produk akademi mereka sebagai tumpuan utama. Pada titik tertentu, mereka pasti membutuhkan figur yang dicomot dari kesebelasan lain. Samuel Eto’o, Luis Figo, Romario, dan Ronaldinho adalah sebagian contohnya. Kebijakan ini semakin menguat tatkala Sandro Rosell menjabat sebagai presiden club.

Satu mega transfer di bawah kepemimpinannya yang cukup membuat Barcelonistas berjingkat adalah keberhasilan menggaet Neymar dengan menyingkirkan pesaingnya, Real Madrid. Namun sayangnya, transfer yang menuai skandal keuangan ini juga menyeret Rosell turun dari tahtanya.

usai Rosell mundur, harapan fans untuk melihat pemain-pemain muda lulusan La Masia mengorbit ke angkasa dengan baju Barcelona juga kandas. Sang suksesor yang juga sekutu Rosell, Josep Maria Bartomeu, lebih suka melihat klubnya membeli pemain bintang dengan harga mahal di bursa transfer.

Awalnya Barcelonistas merasa hal tersebut perlu dilakukan karena skuad yang kompetitif juga butuh figur-figur berkualitas dengan pengalaman segudang. Perekrutan Claudio Bravo, Marc-Andre ter Stegen, dan Luis Suarez pun dianggap sukses. Terlebih presensi mereka berbuah sejumlah trofi juara.

Namun apa lacur, kepergian Neymar ke Paris Saint-Germain (PSG) dengan banderol 222 juta Euro pada 2017 silam menggoyahkan kekuatan Barcelona. Berulangkali merogoh kocek, berkali-kali pula Los Cules tak mendapatkan pengganti yang sepadan. Contoh nyatanya adalah Paco Alcacer, Gerard Deulofeu, Philippe Coutinho, Ousmane Dembele, Malcom, dan (mungkin saja) Antoine Griezmann.

Drama mencari pengganti Neymar ini seperti kisah seorang bocah yang ketiban untung lotere lalu pergi ke pasar. Alih-alih mendapatkan barang yang ia butuhkan, nasib buruk justru menimpanya karena jadi bulan-bulanan pedagang yang menipunya.

Sadar bahwa Barcelona memiliki segepok uang, club-club yang pemainnya diincar pihak Los Cules langsung menaikkan harga. Tanpa melakoni negosiasi intensif, Barcelona dengan suka hati menebus banderol yang ditetapkan.

Total dana yang dihabiskan untuk membeli nama-nama itu mencapai 428 juta Euro! Jumlah itu nyaris dua kali lipat nilai skuad Atalanta di musim 2019/2020 yang berdasarkan Transfermarkt berjumlah 266,5 juta Euro.

Di sisi lain, skuad Los Cules juga mulai digerogoti usia. Beberapa pemain pilarnya semakin menua, bahkan ada yang pensiun, dan mesti diregenerasi. Ironis, pencarian penggawa baru yang dapat mensubstitusi aktor-aktor andalan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Andre Gomes luntur potensinya, Arda Turan meredup bahkan hilang dari radar sepakbola usai terkena kasus pidana di Turki. Ivan Rakitic terus dihujani kritik. Arthur yang digadang-gadang sebagai penerus Xavi malah jadi bahan tukar guling untuk Miralem Pjanic dari Juventus. Daftar ini bakal semakin panjang bila nama-nama seperti Ibrahim Afellay, Paulinho hingga Alex Song diikutsertakan.

Pada musim 2019/2020 kali ini, jebolan akademi yang cukup sering menembus tim utama hanyalah Ansu Fati, dan Riqui Puig. Fati yang berposisi sebagai striker bahkan sudah mengukir gol di ajang La Liga Spanyol dan Liga Champions. Namun penampilan apik mereka belum menyelesaikan krisis dari La Masia yang kini seakan keteteran menyuplai pemain belia dengan kemampuan eksepsional dan bisa dijadikan tumpuan baru. Mesti ada pembenahan fundamental buat salah satu akademi sepakbola terbaik di dunia itu.

Berbagai persoalan pelik di tubuh Barcelona membuat laju kapal mereka yang dahulu kencang sekarang tampak melambat. Bila enggan mencari solusi dari segenap problem yang ada, maka kesemenjanaan Los Cules hanya tinggal menunggu waktu.



Sumber