January 23, 2021

Kisah Transfer Manchester United dan Narasi yang Terulang > Berita Manchester United

Konon katanya, kesuksesan sebuah kesebelasan bisa dilihat dari aktivitas mereka pada bursa transfer. Mereka yang bersungguh-sungguh melakukan perubahan memiliki peluang sukses cukup besar ketimbang mereka yang tidak memanfaatkan jendela transfer dengan baik. Memang, tidak semuanya yang membeli banyak pemain bisa sukses. Namun, setidaknya tim tersebut sudah menunjukkan betapa mereka bersungguh-sungguh untuk membuat timnya menjadi lebih baik lagi.

Jujur, sulit rasanya untuk melihat Manchester United ada di posisi yang mana. Apakah mereka adalah tim yang bersungguh-sungguh? Atau mereka cenderung berhati-hati karena hingga saat ini United terkesan kikuk di lantai bursa. Pemberitaan masih sebatas rumor yang makin hari makin menjengkelkan untuk dibaca. Dari rumor Sancho yang sejauh ini bakal sulit terealisasi, ke rumor kalau United akan membeli Ansu Fati. Dari Ansu Fati, mereka diberitakan ingin membeli Lionel Messi. Ruwet.

Sejak Sir Alex Ferguson dan David Gill pergi, bursa transfer menjadi musuh mereka. Sejak era Moyes hingga Ole Gunnar Solskjaer, United selalu kesulitan bergerak di lantai bursa. Segala masalah demi masalah muncul yang membuat mereka terkesan menjadi kesebelasan yang tanpa ambisi meski mereka sudah tujuh tahun tanpa gelar liga dan 12 tahun tanpa gelar Liga Champions Eropa.

Sulitnya Menjual Pemain

Banyak yang bilang kalau tersingkirnya United dari Sevilla dan tidak konsistennya mereka sepanjang musim 2019/2020 disebabkan kualitas pemain yang berbeda antara pemain utama dengan pemain cadangan. Inilah yang membuat Ole kerap santai meski timnya tertinggal atau mendapat situasi terkunci dan baru akan mengganti pemain pada menit ke-80.

Memainkan Andreas Pereira, Daniel James, Jesse Lingard, Juan Mata, hingga Odion Ighalo dianggap tidak akan mengubah hasil akhir karena penampilan mereka jauh lebih buruk dibanding 11 pemain utama. Namun, musim depan United akan bertanding di Liga Champions. Ajang yang akan diisi oleh tim-tim kuat Eropa. Jika United ingin sukses, maka kedalaman skuad ini perlu diperhatikan.

Sebelum membeli pemain, United ingin menjual mereka-mereka yang dianggap tidak lagi layak berada di skuad. Sayangnya, mereka yang ingin dijual ini kesulitan untuk mendapatkan pembeli. Inilah yang membuat United seperti tidak terlihat usaha untuk memperbaiki diri. Pintu keluar sudah terbuka, tapi menggiring mereka untuk keluar menjadi pekerjaan sulit.

Musim lalu, United masih punya Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez. Mereka berdua mungkin tidak cukup baik untuk United, tapi dari segi penampilan dan nama besar, keduanya masih diminati banyak club. Inilah yang membuat United bisa menjual mereka meski prosesnya juga tidak mudah.

Saat ini, sulit untuk menjual pemain-pemain seperti Andreas Pereira, Jesse Lingard, Phil Jones, hingga nama-nama yang tidak layak lainnya. Sulit untuk mencari club-club yang begitu serius kepada mereka. Belum lagi soal gaji mereka yang mahal.

Permasalahan ketika pemain pindah dari club yang memberinya gaji tinggi adalah mencari club yang mau menyesuaikan gajinya. Ini yang membuat United sulit mencari club peminat untuk pemain-pemain ini. Banyak dari pemain-pemain yang tidak cukup baik ini memiliki kontrak yang masih cukup panjang. Meski jarang main, Phil Jones memiliki gaji 5 ribu paun lebih banyak dari milik Bruno. Begitu juga dengan Marcos Rojo yang kesehariannya di Manchester lebih banyak absen karena cedera. Gaji Rojo yang sebesar 80 ribu paun bahkan lebih tinggi dari pemain bertahan kiri Liverpool, Andy Robertson.

Inilah yang membuat United kesulitan bergerak di bursa transfer. Padahal, uang dari penjualan mereka bisa digunakan untuk menambal kas club yang katanya tidak mau sembarangan mengeluarkan uang imbas dari pandemi virus corona.

Tagar #WoodwardOut yang Tidak Berarti

Ketika memasuki bursa transfer, penggemar United akan disuguhkan dengan kisah lambannya mereka dalam bergerak untuk membeli pemain. Kalau sudah begini, biang keladi akan mengarah kepada dua nama favorit penggemar yaitu Ed Woodward dan keluarga Glazer.

Narasi yang sama akan selalu diulang-ulang. Ed Woodward dianggap tidak becus dalam mengurus United. Glazer dianggap hanya mencari keuntungan bagi club semata. Ole Gunnar Solskjaer dianggap tidak memiliki ambisi dan terkesan tidak mau menekan sang pemilik. Inilah yang membuat penggemar United semakin muak melihat betapa tidak seriusnya tim kesayangan mereka.

Tagar #WoodwardOut kembali muncul beberapa waktu lalu. Petisi untuk meminta mereka semua lengser bermunculan. Sayangnya, hal itu tetap tidak akan efektif. Woodward Out menjadi trending topic, namun mayoritas tweet tersebut berasal dari penggemar Setan Merah yang mayoritas dari Indonesia. Berbicara soal petisi, sudah banyak petisi yang diisi oleh pendukung United sejak musim lalu. Hasilnya? Nihil.

Sudah beberapa kali aksi meminta manajemen United untuk keluar hanya sebatas ucapan belaka. Tanpa aksi nyata, mereka tidak akan merasa kalau posisi mereka sedang tidak nyaman. Musim lalu, fans United berani bersuara. Chant untuk menghancurkan manajemen kembali keluar. Bahkan rumah Ed Woodward pun sampai diserang oleh beberapa oknum penggemar United. Ancaman untuk keluar dari Old Trafford pada sebuah pertandingan pun sempat tersiar. Namun ketika Bruno Fernandes datang, keadaan kembali berubah menjadi seperti biasa.

Tekanan untuk manajemen hanya sebatas ancaman. Namun tidak sampai untuk bisa membawa mereka benar-benar keluar dari Manchester United. Jika tidak ada perubahan yang sifatnya begitu drastis, maka ke depannya kisah transfer United dan kegagalan mereka untuk meraih juara liga hanya akan menghasilkan narasi yang berulang.



Sumber