September 20, 2020

Polemik Anjay! Ini Kata-Kata Multitafsir yang Dilarang di Lapangan Sepak Bola

Polemik Anjay! Ini Kata-Kata Multitafsir yang Dilarang di Lapangan Sepak Bola

Gambar ilustrasi bola. © AP Photo

tendanganbebas.com – Kira-kira sepekan terakhir, jagat media sosial Indonesia diramaikan dengan polemik kata “Anjay”. Kata ini multitafsir, dinilai bisa berdampak negatif untuk generasi muda Ibu Pertiwi. Lalu, apakah di dunia sepak bola ada kata semacam ini?

tendanganbebas.com tak akan bicara panjang lebar soal polemik Anjay, untuk itu Anda bisa mengamati media-media lain yang membahasnya secara mendalam. Namun, guna mencapai konklusi yang selaras, mari kita mulai dari fondasi yang sama.

Anjay adalah bentuk eufemisme alias penghalusan dari kata “Anjing”. Menurut KBBI, Anjing (n) adalah binatang menyusui yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dan sebagainya.

Tidak ada unsur makian dalam kata “Anjing” jika mengacu pada KBBI, tapi bahasa adalah ilmu yang lentur. Pada penerapan di kalangan masyarakat tertentu, kata “Anjing” kerap digunakan sebagai umpatan, dan karena itulah bentuk penghalusannya pun dipermasalahkan.

Yang perlu diingat, kata tidak bisa berdiri sendiri, bergantung pada konteks. Karena itulah banyak kata-kata multitafsir yang dipandang ambigu oleh masyarakat luas.

Kini mari tinggalkan polemik Anjay pada tempatnya dan mari beranjak ke dunia sepak bola. Adakah kata-kata yang bermasalah, yang multitafsir, yang bahkan sampai dilarang di lapangan hijau?

Baca selengkapnya di bawah ini ya, Anda!

1 dari 2

Juga terjadi di sepak bola

Di artikel ini tendanganbebas.com akan fokus ke sepak bola Eropa, khususnya Premier League dan sepak bola Inggris secara umum. Menukil CNN, ternyata memang ada batasan-batasan tertentu yang diterapkan di lapangan hijau.

Ada kata yang boleh dan tidak boleh dikatakan dalam pertandingan, meski dalam praktiknya penuh kelonggaran. Umumnya kata-kata yang dilarang ini berkenaan dengan ras, agama, orientasi seksual, gender, dan disabilitas.

Kata-kata umpatan jelas dilarang. Seperti F*ck, Ars*hole, C*nt, C*ck, D*ckhead, B*tch, dan masih banyak lagi. Namun, ada pula kata-kata yang multitafsir dan dilarang, sama seperti kasus Anjay.

Sebut saja kata-kata yang menyentuh ranah kesetaraan gender dan fisik seperti “queen”, “don’t be a woman”, “cripple”, juga “princess” dan “man up”. Kata-kata ini pun bisa jadi masalah, menyulut emosi pemain di lapangan, sama seperti kasus Anjay.

2 dari 2

Pelecehan Rasial

Meski begitu, peraturan terkait kata-kata kasar di atas terbilang fleksibel, wasit tidak langsung menjatuhkan hukuman, tergantung konteks.

Banyak pemain yang lolos dan dibiarkan meski berkata kasar di lapangan, tapi ada pula yang terjerat kasus seperti Wayne Rooney. Mantan striker Manchester United ini pernah dijatuhi larangan bertanding dua pertandingan karena umpatan kasar di lapangan.

Juga, sepak bola Eropa pun punya masalah yang lebih besar daripada mengurus umpatan pemain di lapangan. Mereka sedang bersama-sama berusaha menekel rasisme, pelecehan yang masih terlalu sulit dikontrol.

Bagaimanapun, di bidang apa pun, menilai kata tidak bisa lepas dari konteks. Dan bukankah usaha melindungi manusia dari kata multitafsir berarti mengerdilkan akal budi manusia itu sendiri?

Sumber: Berbagai sumber, CNN



Sumber