September 30, 2020

Sederet Transfer Pemain di Liga Indonesia yang Membuat Suporter Terluka

Indriyanto Nugroho meroket di sepak bola nasional usai mengenyam pengalaman lewat program PSSI Primavera 1995-1996. Pemain asal Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini menjadi pusat perhatian dengan pemberitaan ketika ia dibeli dengan nilai Rp100.

Nunung, sapaan akrab Indriyanto Nugroho, direkrut Pelita Jaya dari Arseto Solo pada tahun 1996-1997. Saat itu, dua club eks Galatama, Pelita Jaya dan Arseto Solo berebut untuk memakai jasanya sepulang dari Italia dalam program Primavera. Terjadi perseteruan antara Arseto dan Pelita Jaya.

usai menjalani latihan di Italia, Nunung memang sempat pulang ke Solo, untuk berlatih di Diklat Arseto yakni timnya terdahulu. Menuju kariernya ke jenjang profesional, manajemen Arseto tak kunjung memberikan kepastian kontrak untuknya.

Lantas dirinya menerima tawaran Pelita Jaya yang serius meminangnya. Di sisi lain, Arseto mengklaim jadi club asal Nunung. Alasannya, Nunung pernah terdaftar sebagai pemain Diklat Arseto.

Alhasil, sempat terjadi polemik di media massa dan berujung perdamaian di Sekretariat PSSI di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 29 Maret 1996. Pada pertemuan yang sempat berjalan panas itu, manajemen Arseto dan Pelita Jaya akhirnya menemui kesepakatan.

Arseto mau melepas Nunung dengan nilai transfer yang tak masuk akal yakni Rp100. Ini adalah rekor transfer termurah dalam sejarah sepak bola modern sampai saat ini. Kabar tersebut pun membuat dirinya dicap sebagai mister Mr. Cepek, karena direkrut dengan nominal tersebut pada masa itu.

Saat ditemui Bola.com di rumah lahirnya Pasoepati, Solo, pada 26 Juni 2020, Nunung bercerita panjang lebar mengenai masa-masa sulitnya saat itu. Predikat Mr, cepek sempat membuatnya tertekan, padahal baru merintis sebagai pesepakbola profesional.

“Selama dua tahun itu saya seperti kaget, tertekan. Bagaimana tidak, sebutan pemain cepek selalu ditujukan ke saya,” terangnya.

“Saya masih ingat setiap pertandingan di luar, seperti main di Medan, Bandung, atau Padang, banyak penonton yang melempari saya uang koin seratus perak,” tutur pemain asal Bekonang, Kabupaten Sukoharjo ini.

Nunung membeberkan cerita proses menerima pinangan dari Pelita Jaya. Sebagai pemain Diklat Arseto, sepulangnya dari Italia, Nunung kembali ke Solo untuk tetap berlatih.

Akan akan tetapi, tidak ada kepastian dari manajemen Arseto mengenai statusnya untuk ke jenjang profesional. Sebelumnya juga tidak ada ikatan kontrak hitam di atas putih dengan manajemen Arseto, sehingga membuatnya berpaling ke Pelita Jaya.

“Saya juga menunggu langkah manajemen Arseto waktu itu mau bagaimana. Sebagai pemain kan wajar menunggu kepastian. Jujur saja saya tidak ada ikatan apapun dengan Arseto waktu itu, termasuk perjanjian apapun,” terangnya.

“Pelita datang datang menawari saya dan terjadi kesepakatan. Kemudian muncul pemberitaan soal mister cepek yang sejujurnya saya tidak tahu apa-apa,” lanjut pemain Timnas Indonesia di Piala AFC 1996 ini.



Sumber